Selasa, 01 Desember 2015

Pelangi Di Balik Awan



Ada yang bilang cinta itu datang karena kita sering ketemu. Ada yang bilang juga cinta itu ada karena adanya suatu hubungan yang udah terjalin. Dan banyak yang cerita kalau benci bakal jadi cinta. Oke, lupakan aja yang barusan cuma sekedar sharing aja kok. Nama gue Grecillia Fransiska akrab disapa Cilla. Kata temen-temen gue, gue adalah tipikal orang yang bawel, kalau dalam bahasa Inggrisnya talkactive. Gue juga trendy and fashionable akan segala hal, dan satu hal yang gak ketinggalan, gue adalah stalker sejati.
Yah, gitu deh sekilas info tentang gue menurut teman-teman gue. Gue keturunan Janda alias Jawa Sunda, warna kulit sawo mentah, mata hitam setengah bulan, berat 50 kg dan tinggi kira-kira 161 cm. Gue belajar di salah satu SMA swasta ternama di Jakarta. Dengan gedung sekolah yang besar, halaman yang luas, dan segala fasilitas yang memadai sekolah gue masuk ke dalam best 5 school di Jakarta. Di sini gue punya banyak teman-teman dan tentunya hatters. Tapi gue gak pernah peduli akan semua hatters gue. Ada 5 sahabat gue di kelas, Tira yang suka baca novel, Elsa yang suka chatting, Michelle yang mukanya Jepang banget, Dina yang sok dewasa, dan terakhir Dianna yang super pendiem banget. Dan hari ini adalah minggu kedua kita semua duduk di kelas 11 IPA-A.
“Teettttt!!” bunyi bel yang ditunggu-tunggu pun berbunyi.
“Cil, kita orang duluan ya. Ada les nih!” kata Michelle diikuti Tira, Elsa, dan Dina yang berjalan berdampingan.
“Okey! Take care yo! Hahaha” jawab Gue.
Gue sembari menuruni tangga. Di antara kita berenam, Dianna adalah orang yang paling dekat dengan gue. Maklum, kita sama-sama udah dari kelas 3 SD alias udah 8 tahun kita bareng-bareng. Kita pun memiliki presatsi dan urusan cinta yang gak jauh berbeda. Contoh aja, semester kemarin gue dapet peringkat I umum dan dia II umum. Tiba-tiba ada suara gemuruh dan getar lantai yang gue (dan mungkin Dianna) rasain. Dan gue rasa itu suara dan getaran orang berlari (yang lagi dikejar anjing kelaparan). Seketika gue dan Dianna noleh ke belakang. Ternyata Rasya. Lengkapnya Rasya Firnando. Dia temen sekelas gue, keturunan Aceh Palembang. Putih, tinggi kira-kira 165 cm, pinter (masuk V besar umum semester kemarin), anak olimpiade matematika, anak futsal dan idola para adik kelas. Dia suka baca komik Jepang, dan gak ketinggalan dia jutek abis.
“Eh, Cill!” seru Rasya dengan napas tergopoh-gopoh.
“Iya. Kenapa?” Gue, dengan pipi memerah.
“Mau pulang?” Rasya tersenyum.
“Iya, Sya. Kenapa?” Gue membalas senyum.
“Hm, mau balik ke mana? Rumah?” tanya Rasya.
“Iyalah, emang mau ke mana?” Gue ketawa kecil, dan dia pun membalas sama.
“Ya udah, hati-hati ya!” katanya.
Gue cuma bisa senyum, dan senyum itu tanda bahwa gue salah tingkah dan gue mau nge-fly. Dalam hati gue menjerit “OMG!!! Astaga gue gak nyangka banget, dia yang jutek, sok cool dan killer kayak dia negur gue? What?” Gue turun tangga dengan langkah yang entah ke mana arahnya, rasanya udah campur-campur alias gak keruan.
“Ciee, Cilla. Ada apa tuh sama si Rasya?” Dianna Bertanya dengan nada menggoda.
“Apaan sih lo, gak kenapa-kenapa kali. Namanya temen, wajar kan kalau nanya?” gue senyum tanda bahagia, tapi tetep gak berlebihan.
“Iya deh, basing lo aja. Hahaha” jawab Dianna.
Mulai dari hari itu dan seterusnya Rasya selalu nyapa gue sehabis pulang sekolah. Hanya sekedar bertanya atau memang perhatian, ya gue juga gak ngertilah. Tapi semua itu cuman gue anggep sebagai perhatian antara temen dengan temen. Guys, Rasya itu tipikal cowok yang jutek. Dan Rasya jutek banget sama cewek, kalau ada cewek yang bersikap menel ke dia. Dia gak akan pernah nanggepin, dia akan ngejutekin tuh cewek. Gak percaya? Ada buktinya Guys! Waktu itu kita lagi pada Study Tour, waktu di dalam bus. Ada temen gue (beda kelas) mau minjem komik ke dia. Kelihatan dari gaya bicaranya sih tuh anak mau ngedeketin Rasya. Namanya Abel.
“Rasya, boleh minjem komiknya gak?” ucap Abel dengan nada yang sok lemah gemulai, tapi demi apapun itu menijijikkan.
“Buat apa?” jawab Rasya singkat, padat dan jutek banget.
“Buat dibacalah Rasya, emang buat apa lagi?” dengan nada yang cewek banget, tapi agak maksa.
“Ntar, gue lagi baca!” wajahnya flat banget.
Sewaktu belajar, Rasya sering ketangkep basah baik itu sama gue ataupun Dianna karena dia sering ngelihatin gue (kebanyakan si Dianna yang ngelihat hal itu). Terkadang Rasya natap ke arah bangku gue dengan jangka waktu yang cukup lama. Dan seketika gue melihat ke arah dia, dan dia shocked banget! Dan juga suatu waktu, kita-kita anak kelas 11 IPA-A ngadain makan siang bersama wali kelas -yang akrab disapa Mrs. Weni- di salah satu restoran terdekat sekolah itu. Rasya duduk berseberangan dengan gue, dan alhasil ‘Lagi-lagi dia ketahuan lagi ngelihatin gue’. Awal mula mungkin itu cuma sekedar perasaan gue aja yang agak kegeeran, tetapi lama-lama temen-temen gue sekelas pun menyadari hal itu. Dan semuanya seakan gak percaya dengan hal itu.
Seorang Rasya? Bisa perhatian dan segitunya sama cewek? Dia gak pernah kayak gini ke cewek, dan ini pertama kalinya. Dan ternyata Cilla orangnya? Cewek yang 180 derajat berbeda banget karakternya sama dia! Tapi jujur, kita setuju! Itu anggapan dan juga tanggapan dari mereka semua. Waktu hari Jumat ternyata ada pengumuman bahwa kelas 11 IPA-A dipindah ke ruang baru yang ada di bawah. Di dalam ruangan belum terdapat meja dan kursi -alias cuma ada lantai yang agak berdebu. Kita semua disuruh Mrs. Weni untuk membersihkan lantai dan juga langit-langit kelas yang masih kotor. Dan sewaktu lantai kelas lagi dipel -lantai penuh dengan genangan air, tiba-tiba dengan gak sengaja gue masuk. Gue terpental ke belakang, tapi ada sesuatu yang nahan gue dari belakang. Alhasil gue gak jatuh, gue lihat mengarah ke atas. Rasya nolongin gue! Serentak semua anak pada teriak histeris.
“Lo gak apa-apa?” wajahnya Rasya panik.
“Gue, gue gak apa-apa kok. Thanks ya!” pipi gue memerah dan rasa malu itu muncul.
Saat ketika semua orang ngebully gue akan slow motion yang terjadi tadi. Gue lihat di sudut pandang kelas, Dianna cuma diem aja dengan wajah flat menatap ke arah gue. Gue berusaha bersikap gak terjadi apa-apa dan menghampiri dia.
“Ngapain lo di sini sendiri, ke luar yuk!” dia gak ngebales apa-apa dan cuma ikut gue ke luar kelas.
Di sana ada tumpukan meja dan kursi yang akan disusun nanti setelah lantai kelas kering. Semua siswa naik ke atas sana untuk rehat, santai dan ngobrol-ngobrol. Berhubung barisan depan -perempuan- udah penuh gue ke belakang -barisan laki-laki. Ketika gue kesusahan mau naik ke atas tumpukan kursi dan meja itu, tiba-tiba..
“Sini Pegangan tangan gue, gue bantu naik.” Rasya ngulurin tangannya untuk gue. Sontak mereka semua pada mengalihkan perhatiannya ke kita berdua. Dan dalam hati gue berkata ‘Astaga Tuhan! Detik ini juga gue ngerasa seakan-akan ada Pangeran Kerajaan yang tiba-tiba datang mau ngelamar gue.’ Dengan perasaan dan ekspresi yang tenang, gue raih tangan Rasya.
“Makasih.” gue tersenyum ke arah Rasya.
Semakin hari berjalan perhatian Rasya pun semakin terasa. Tapi ada suatu hal yang mengganjal di dalam benak gue. Dianna. Gue curiga sama sikap dia yang terlihat kayak orang cemburu tapi dia cuma bisa diem dan pura-pura tenang dalam kecemburuannya. Akhirnya gue berusaha tanya ke dia sewaktu di dalam ruang les yang cuma ada kita berdua.
“Na, gue pengen tanya sesuatu sama lo!” wajah gue serius.
“Kenapa, Cill? Tanya aja.” Dianna senyum dengan santainya.
“Lo harus jawab jujur ya!” kata Gue.
“Semoga deh gue jawab jujur. Hahaha!” jawab Dianna. Gue ketawa dengan asyiknya
“Lo…” dengan jeda yang agak lama tapi pasti, “suka kan sama Rasya?”
“Ih, eh, emh enggak kok.” jawab Dianna dan suara canda seolah hilang.
“Lo sekarang bisa bohongin diri lo sendiri! Tapi gak dengan gue, Na.” jawab gue dengan nada tegas.
Terjadi keheningan sejenak.
“Iya gue suka sama Rasya!! Tapi itu semua percuma, Cill. Rasya suka sama lo. Dan itu emang kenyataan kita semua juga udah tahu.” Dianna.
Dan kalian tahu? Saat itu juga gue ngerasa bersalah sama diri gue sendiri. Tuhan, sahabat gue suka sama orang yang sayang sama gue dan gue pun sayang sama orang yang sahabat gue suka. Itu dilema banget. Gue menjerit keras dalam hati gue, kenapa ini semua harus terjadi antara gue dan sahabat gue.
“Na, kata siapa dia suka sama gue? Dia gak bilang gitu kan? Jadi lo jangan salah persepsi ya.” nada bicara gue kembali tenang.
Gue masuk pintu kelas tanpa ekspresi semenjak gue tahu suatu rahasia yang menjadi fakta kemarin. Perasaan bingung dan bimbang yang seakan-akan membuat gue selalu merasa bersalah sama Dianna. Kenapa harus Dianna? Kenapa harus dia yang juga suka sama Rasya? Jujur, gue gak mau Dianna sakit hati hanya karena gue. Dan akhirnya, gue bersikap dan berpura-pura gak peka akan kode keras yang dikasih sama Rasya. Gue bersikap seolah-olah gak ada apa-apa. Ternyata, baik Rasya, Dianna dan temen-temen gue sekelas merasa ada yang aneh sama gue.
Kalian tahu Guys? Karena gue ngerasa bersalah akan diri gue. Gue sok-sok nyomblangin Dianna dan Rasya, munafik banget gue padahal gue udah tahu bahwa Rasya bener-bener sayang dan suka sama gue. Gue gak mau Dianna sakit hati hanya karena gue seolah-olah ngerebut cowok yang dia sayang. Setiap hari gue selalu sok kuat, tegar, seyum lebar dan minta bantuan temen gue lainnya untuk nyomblangin mereka. Padahal, perasaan gue lagi hancur banget.
“Sya, Dianna suka sama lo.” Gue langsung lari pulang dengan setetes air mata yang ke luar.
Setelah upaya gue nyomblangin mereka. Akhirnya Dianna pacaran sama Rasya. Hari-hari gue selalu sok kuat dan tegar. Entah apa yang gue lakuin, itulah yang gue rasa sekarang.
“Cie, taken. Selamat ya!” gue meluk Dianna, tapi dalam hati gue menjerit.
“Iya makasih sayang.” jawab Dianna dengan nada bicara yang benar-benar gak tau apa yang terjadi.
Sewaktu pulang sekolah, tiba-tiba Reno -sahabat Rasya- menghampiri gue.
“Kecewa, Cill gue sama lo!” kata Reno.
“Kenapa sih lo?” gue kaget, dan bener-bener gak ngerti.
“Rasya bener-bener sayang sama lo, dia pengen ngutarain semuanya sama lo dalam waktu dekat. Tapi kenapa lo malah pura-pura gak peka, Cill? Lo malah nyomblangin dia sama Dianna. Maksud lo apa sih?” nada bicara yang kesal.
“Gue gak bisa cerita ini, Ren!” gue bener-bener gak bisa cerita ini, karena ini menyangkut sahabat gue.
“oke, gak apalah lo gak bisa kasih tahu ini ke gue. Tapi pada suatu saat nanti Rasya akan tahu yang sebenarnya.” Reno langsung pergi, pulang, melangkah yang gue gak tahu tujuannya dan gue pun gak peduli.
Gak terasa udah 5 bulan Rasya dan Dianna pacaran. Saat pulang sekolah, kita berdua sedang asyik makan siang. Seperti biasa sebelum berangkat les. Dan saat kita lagi makan tiba-tiba nada sms Dianna berdering. Setelah Dianna baca pesan itu, dia langsung terbujur kaku plus lemas. Dan tersontak gue langsung kaget, gue langsung check hp-nya. Ada sebuah pesan.
Rasya:
“Na, maaf ya. Kayaknya kita gak bisa lanjutin hubungan ini lagi. Gue mau jujur, selama ini lo gak pernah terbuka sama gue. Dan jujur sebenarnya, gue sayang sama Cilla. Dari awal kita pacaran, Cilla mati-matian buat nyomblangin kita. Dia sayang lo, Na. Makanya dia gak mau nyakitin perasaan lo. Tapi kita tetep bisa temenan kok, Na.”
Gue langsung memeluk Dianna erat-erat dan menangis.
“Na, maafin gue. Gue udah nyakitin perasaan lo. Jujur, gue gak punya maksud apa-apa kok. Gue sayang sama lo, Na!” gue nangis, miris, gue ngerasa bersalah banget.
“Cill, lo gak salah. Tapi gue yang gak tahu diri banget. Harusnya gue udah sadar diri, kalau dari awal Rasya emang suka dan sayang sama lo. Harusnya gue gak memaksakan diri gue. Maafin gue ya, Cill.” Dianna menangis dengan penuh haru.
Semuanya sudah nampak jelas, tidak ada yang berpura-pura lagi. Seolah awan mendung sudah menurunkan hujannya. Dan terlihat pelangi dari balik awan itu. Baik Dianna maupun gue sudah mengetahui segala sesuatunya. Rasya dan gue pun tidak ragu lagi untuk mengutarakan perasaan. Sekarang, pelangi benar-benar muncul dari kegelapan yang ada.
“Cill, aku sayang kamu. Jangan pergi lagi ya.” Rasya mengecup dahi gue.
The End
Cerpen Karangan: Pinkan Adelia Kurniawan
Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-persahabatan/pelangi-di-balik-awan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar